Sabtu, 31 Oktober 2009

Aborsi Rasa 2

aku kangen kamu, sayang...


yah,
hanya secarik kata ini yang kutemui di antara seribu huruf yang berserakan di otakku. entah... hanya ensamble namamu yang kuingat saat waktu menggulirkan hari pelan-pelan.ada segelintir kerinduan, mengerat detak-detak nadiku sejak dini itu, ketika kau meninggalkan jejak kebisuan di sepanjang kamarku.

sejenak, candu dan cumbu bergerak memutar di relung yang patah. sedikit bisu kembali menghantui ketika namamu mendesak untuk kusapa.
deraian tangis pun kembali teruntai. dan kali ini, hanya untukmu.

rasa inikah yang harus ku aborsi?


(membiarkan benci membiusku hingga terlelap kala mengaborsi cintamu)

buih emosi

berteman asap CO2, jariku mulai memencet tuts keyboard untuk mengenali siapa kamu dan seribu bayangan yang menghiasi dinding-dinding peraduan.kembali namamu merajuk dalam satu memoar yang indah namun begitu semu untuk kuraih.entahlah... ada sejuta rindu memuncak ketika aku menatap goresan tanganmu yang kesekian kalinya.


masihkah ada sengatan bayang-bayangku yang kau simpan sejak pertemuan yang kesekian?

abu-abu kutatap parasmu dalam bayang pekat yang kupoles sejak dini malam itu. mungkin aku, ataukah kau yang sudah lelah berpelangi dengan cinta kita, sayang... hanya desiran angin semalam yang membelai rambutku untuk kembali kutiupkan pada jendela kamarmu sepanjang hujan sore ini. dan kutahu, takkan pernah kau membuka jendela itu.

jeritkanlah, aku yang merapuh tanpa lukisan jejakmu.

biarkan titik-titik buih menghapus rasa yang tak bermuara ini.biarkan hanyut tertelan ombak pesakitan dan lenyap.


(untuk seseorang, yang mungkin sudah terlambat untuk kukatakan bahwa aku mencintainya kini)

Kamis, 29 Oktober 2009

AKU INGIN


aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yag tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...

aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada....

Selasa, 27 Oktober 2009

Alhamdulillah, ya Allah...


akhirnya jadi juga blog ini.. tempat menuangkan segala keluh kesah yang ada, setelah sekian lama terpendam kabut sunyi... hihiw... :)

alhamdulillah....

akhirnya impian untuk kembali menulis script2 yang sempat berantakan dan terserak entah kemana bisa terkumpul lagi dalam satu judul: " DHE'ZLALOVA"... ummppphh... i love you so much ....
hasrat yang sudah lama dikubur (hidup-hidup... bergghhh !!! ) akhirnya bisa tertuang lagi... senengnya... senengnyaaaaa...... :D

rasanya banyak yang pengen ditulis..
tentang kehidupan mengerikan yang suram, yang akhirnya (alhamdulillah lagi...) bisa terlewati.. *walaupun masih terseok-seok menyembuhkan luka-luka yang parah*...
tentang sang putra mahkotaQ satu-satunya... (karena terserang gejala kista dan kemungkinan untuk tidak mempunyai anak lagi...apakah dokter itu salah mendiagnosa ya? i hope so...cz harus secepat'n operasi pengangkatan rahim... duuuuuuuhhhhh, knapa jadi begini ya?)
tentang cintaQhuw yang -untuk sementara ini- masih berpisah jauh dariku... * surabaya... *

mudah2an semua bisa berjalan lancar dan tiada hambatan...
amin.

^_^ *dhe'zlalova*
aku tak pernah tahu,
kenapa di setiap judul nafasku bertuliskan memorimu
kenapa di setiap jeda langkahku memilih namamu
kenapa di setiap desahan kata yang terucap hanyalah penggalan-penggalan cinta yang tak kunjung pudar...

aku letih menatap kota memorimu....

berkhayal dengan sejuta impian bahwa tanganmulah yang memelukku kala itu.

hingga akhirnya aku tak pernah tahu,
bahwa hanya kelammu yang menghiasi kesedihan kali ini...

Ketika cinta adalah sebuah kesalahan

Ketika Cinta Adalah Sebuah Kesalahan


ketika embun itu kurengkuh
aku melihat kilat bayangmu
sekilas….
Hanya sekilas…
Sehingga ku pun tahu
Bahwa bayang itu
adalah doktrin
Untuk jiwa yang beku
Dan akulah…..

---------------------------------senin

Fara menutup lembaran terakhir diarynya. Lembaran yang terakhir pula yang menghiasi malamnya. Dingin dan kaku. Fara menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dingin terasa kian menyengat tubuh Fara yang mungil. Sejenak direbahkan kepalanya di bantal. Mata Fara menerawang. Mengingat kejadian saat itu. Setahun yang lalu. Saat ia bertemu sebelah hati yang tak mungkin dimilikinya.
Vino, nama indah seorang pria yang pernah begitu ia cinta. Namun pernah pula dibencinya. Yang pernah mengisi harinya dengan canda tawa, tapi pernah pula mengiris hatinya hingga ia terkulai perih. Perlahan Fara memejamkan mata, mengingat kembali kejadian yang pernah dialaminya. Bersama Vino. Sekilas kantuk perlahan menyerangnya, hingga akhirnya Fara benar-benar dibawa pergi sang dewa mimpi. Mengembara menuju samudra mimpi yang begitu panjang.

###

Fara kini telah sampai di villanya di kawasan Puncak, Bogor. Dihirupnya perlahan udara Puncak yang begitu dingin dan lembut. Angin Puncak sesekali berhembus perlahan meniup wajahnya yang manis. Seolah mengajak bercanda. Tak ada yang berubah dari daerah itu. Letak perkebunan teh yang persis di depan villa peninggalan almarhumah ayah dan bundanya, taman mawar putih yang dibangun di pekarangan villa bertingkat dua itu, aroma daun teh yang merebak diikuti wangi mawar putih masih ada. Sekilas kenangan 16 tahun yang lalu membuka kembali. Saat masih bersama ayah dan bundanya. Entah sudah berapa lama kenangan itu terkubur bersama kesendiriannya. Bersama sunyinya mengarungi hidup yang begitu kejam. Fara menghela nafas. Berat.
Diletakkannya barang-barang bawaan yang ringan dari Jakarta. Disuruhnya Pak Min, tukang kebun di villanya mengangkut barang-barang itu dari Honda Jazz yang ia kendarai sendirian dari Jakarta tadi sore. Tak ada yang mengetahui kepergian Fara sore ini. Pun Rendy, sang manager yang berperawakan atletis dan begitu tampan.
“Sudah, ‘Neng. Barang-barang sudah Bapak taruh di kamar ‘Neng. Sekarang ‘Neng mau apa? Mau kopi? Atau mau mandi dulu? Nanti saya suruh Bi ‘Jah menyiapkannya untuk ‘Neng.” Tawar Pak Min. Bi ‘Jah adalah pembantu yang sudah mengabdi kepada Fara dan orangtuanya dari kecil. Tipikal pembantu yang begitu setia. Dengan perawakan tubuh yang lumayan gemuk membuat Fara tenang di pelukannya. Sosok perempuan Jawa yang tegar namun lembut. Membuat Fara semakin betah.
“Nggak, Pak. Nanti saja. Saya masih mau menikmati Puncak dulu,” Fara tersenyum kecil kepada Pak Min. Seorang tukang kebun yang ulet dan cekatan. Dengan badan kecil yang dimilikinya, Pak Min menjadi lebih terampil menata tanaman pohon di pekarangannya, juga taman mawar putih itu.
Fara melangkahkan kaki menuju kamarnya. Menyetir dari Jakarta ke Puncak membuatnya letih. Disentuhnya ranjang yang sudah ia tinggalkan dua tahun yang lalu. Dingin. Mungkin karena pengaruh udara Puncak yang bertemperatur rendah. Perlahan direbahkan tubuhnya yang mungil. Menikmati malam Puncak yang begitu kaku dan dingin. Sesekali diliriknya jendela yang berdiri megah dan besar dari sudut matanya. Bintang bertaburan di langit. Warnanya yang putih kian terang dan menyala. Serasa bagaikan lautan bintang yang menghiasi kamarnya malam itu. Juga tidurnya.

###

Kring…!!!! Kring…!!!

Jam weker berbunyi nyaring. Membangunkan Fara dari lelapnya. Dengan mata terpejam diraihnya weker itu. 06.45. Masih pagi, ucap Fara dalam hati. Tak biasanya Fara bangun jam sekian. Maklum, Fara adalah seorang novelis dengan berbagai kejaran deadline. Pekerjaannya yang begitu menyita waktunya membuat Fara membutuhkan sentuhan seorang manajer. Dan Rendy adalah salah seorang dari sekian banyak temannya yang bisa Fara jadikan seorang manajer.
Fara bangkit dari ranjangnya yang kusut. Begitu lelapkah ia semalam sehingga tak menyadari apa yang diperbuatnya selama tidur? Fara tersenyum geli. Segera dibukanya tirai ungu yang menutupi jendelanya. Perlahan udara segar merayap masuk dari sudut-sudut jendelanya. Sejuk. Dibukanya lebih lebar lagi jendela berdaun lebar dan panjang itu. Suara burung yang berkicauan mengalun merdu di telinga Fara. Dihirupnya hawa pagi yang ditawarkan Puncak kepadanya. Dingin dan nyaman. Fara merasa seperti kembali lagi ke masa itu. Masa kanak-kanaknya dulu.

Tiba-tiba ponsel Fara berbunyi. Lagu “Endless Love” mengalun pelan. Segera ia raih dan dilihatnya nama yang berkilat-kilat di ponsel itu. Rendy. Ada rasa jengah saat dilihatnya nama itu yang muncul. Dengan sejuta rasa malas Fara mengangkat telepon itu.
“Faraaaaaaa……..!!!!!!!” bentak sang penelepon ketika panggilannya diangkat Fara. Fara segera menjauhkan telinga dari corong pendengaran di ponsel itu. Kepalanya berdengung mendengar teriakan sang manajer. Fara tahu, Rendy pasti sangat emosi mendapati Fara tak berada di kamar apartemennya.
“Iya, ada apa, Ren? Pagi- pagi begini sudah teriak-teriak. Mau cepet tua, lo?” ucap Fara kesal.
“Fara…. Lo di mana? Lo tahu kan, deadline naskah novel lo tinggal 2 minggu lagi. Sedangkan sekarang lo pergi nggak jelas gini. Apalagi hari ini lo ada jadwal sama redaktur penerbit. Gimana, sih?” Suara cempreng Rendy menggaung di telinga Fara. Fara kembali menjauhkan ponsel dari telinga. Kerutan segera menghiasi wajah Fara. Rencana menyegarkan harinya yang penat sesaat sebelum merampungkan naskah novelnya seketika sirna. Didekatkannya lagi ponsel itu ke telinganya.
“Jadwal itu kan lo yang buat. Bukan gue! Kalo lo mau, lo aja yang ngejalanin schedule itu. Gw cape!” ucap Fara berang. Wajahnya memerah menahan amarah yang sejak kemarin dipendamnya. Kesal yang bertumpuk untuk seorang Rendy.
“Fara!! Listen to me! You can’t do this! I’m still your manager, and you must obey me! Do you understand??” pekik Rendy lagi. Lebih keras dari biasanya, membuat kejengkelan Fara semakin memuncak.
“As you know… I don’t want to understand! Terserah lo, Ren! Yang pasti gue baru balik ke Jakarta bulan depan!”
“But, Far…. You can’t do this! You still…”

Tuut….. Tuut………

Fara mematikan ponselnya. Rasa kesal menyelimuti hati Fara. Dibantingnya ponsel ke ranjang. Setengah berlari Fara masuk ke kamar mandi. Mungkin setelah mandi, ia akan mendapatkan kesegaran harinya lagi.

###

“Sial!!” pekik Rendy untuk yang kesekian kalinya. Dibantingnya ponsel ke ranjang. Wajahnya menjadi muram. Dion yang sedari tadi duduk memerhatikan tingkah Rendy, kekasihnya, segera berdiri menghampirinya. Dielusnya pipi yang bersemu merah karena amarah itu. Lembut. Senyum mungil tersungging dari sudut bibir Dion. Ditenggelamkannya kepala Rendy dalam pelukan terhangat yang dimilikinya. Membuat Rendy merasa nyaman ketika berada di pelukannya. Perlahan air mata bergulir di pipi Rendy.
“Sabar, sayang. Mungkin Fara butuh waktu untuk sendiri. Kulihat, Fara begitu jenuh dengan semua schedule yang kamu kasih,” hibur Dion lembut. Rendy merasa semakin aman di dalamnya. Dion adalah lelaki pertama untuknya setelah Rendy memutuskan mencintai seorang pria. Setelah ia mengalami kesakitan yang begitu perih. Setelah kebersamaannya bersama Stella yang harus berakhir saat Stella memilih pria lain yang lebih darinya. Sejak itu Rendy mulai membenci semua wanita. Namun tidak ibunya. Hanya ibunya, seorang wanita yang masih bisa ia sayangi. Lainnya tidak. Ditambah lagi pergaulan Rendy yang serba metroseksual dan kebanyakan kaum gay. Hingga Rendy bertemu Dion. Lelaki jantan namun lembut. Di balik kekakuannya tersimpan sebuah jiwa romantis yang mampu meluluhkan hati seorang Rendy. Sesosok pria yang tampan, namun begitu rapuh. Beruntunglah Rendy bertemu Dion dan memilikinya.
“Asal kamu tahu, Di… Aku juga jenuh. Setiap hari slalu aku yang dipersalahkan bila Fara tak mau memenuhi jadwal itu. Aku letih, Di.”
“Kamu juga perlu istirahat, say. Take a rest, first. I think you must get it,” ucap Dion lembut. Dikecupnya kening Rendy. Perlahan tangis Rendy mulai mereda. Tiba-tiba ponsel Rendy bergetar. Sesaat. Dilepaskannya pelukan Dion yang sedari tadi melingkar erat di pinggangnya. Diraihnya ponsel berwarna merah itu dan dilihatnya. Sebuah sms masuk.

Gw akan kirim naskah novel gw lewat internet. Jadi lo nggak usah khawatir. Gw balik bulan depan. So, nikmati aja waktu lo berdua bareng Dion. Bulan ini lo libur dulu. Have a nice holiday.

Sender:
Fara
+6281931783817

Sent:
07:15:07am
18 June 2007

Pandangan Rendy menusuk tajam ke ponselnya. Amarah yang tadi sudah turun kini menggelegak lagi. Matanya nanar. Merah. Diraihnya tas dan berlari meninggalkan kamar apartemen Fara. Dion yang kebingungan segera menyusulnya. Setelah sebelumnya mengunci kamar Fara yang masih menganga lebar.

###

Ingatan Fara kembali terusik oleh deadline yang menghantuinya setiap waktu. Naskah novelnya ditunggu redaksi percetakan dengan batas waktu 2 minggu lagi. Terlalu singkat untuknya. Untunglah notebooknya mempunyai fasilitas untuk browsing internet. Setidaknya ia sudah mengirimkan sms kepada Rendy bahwa naskah itu akan dikirimnya lewat internet. Jadi Fara tak usah terlalu bingung lagi menghadapi Rendy. Satu masalah berkurang.
Perlahan dilangkahkan kakinya menuju taman mawar putih kesukaannya. Diciumnya beberapa tangkai mawar putih itu. Harum. Seharum hawa pegunungan ini. Sedikit berlari kecil ia keluar menyusuri ladang perkebunan teh yang terhampar luas di hadapannya. Direntangkannya tangan lebar-lebar. Seolah Fara akan memeluk semua sudut Puncak ini. Ditelusurinya jalan setapak yang lurus menurun itu. Sesekali dilihatnya beberapa wanita yang bersenda gurau sambil memetik daun-daun teh. Senyum kebahagiaan terlepas dari wajah mereka yang masih segar disentuh hawa Puncak yang dingin dan lembut. Dipejamkannya mata beberapa saat. Mengusik kembali kenangan yang terkubur bersama ayah bundanya. 16 tahun yang lalu.




“Ayah… Bunga mawarnya indah,ya? ‘Ra boleh minta?” tanya Fara pada ayahnya. Senyum melebar di kedua sudut bibir ayahnya. Dirangkulnya gadis kecil itu lembut. Kelembutan seorang ayah. Tangan kecil Fara berusaha meraih mawar putih itu. Namun tangannya tak pernah sampai. Kerutan-kerutan kecil menghiasi dahi Fara yang mungil.
“Iya, sayang. Tapi nanti, ya? Jangan sekarang,” sahut ayahnya pelan. Dihampiri dan diusapnya kepala gadis kesayangannya itu sambil tersenyum. Fara pun ikut tersenyum ketika melihat sang ayah tersenyum. Mendung di hatinya tersapu oleh kelembutan senyum serta rangkulan seorang ayah.
“Kapan, Yah? Kapan ‘Ra boleh minta?” ucapnya polos. Keluguan seorang anak kecil terpancar dari kedua matanya yang indah. Laksana mata seorang bidadari yang menatap dengan indahnya.
“Nanti, sayang. ‘Ra boleh minta kalau sudah beritahu Bunda. Ya, sayang?”
“Jadi benar, Yah? ‘Ra boleh petik bunga mawar putih ini? Horeeee!!!!” Fara berlari mengitari halaman villanya. Sesekali diciumnya bunga mawar putih itu. Lembut. Ayahnya tersenyum geli melihat tingkah sang bidadari mungilnya yang masih berlari-lari di kebun itu.



Brukkkk!!!!!

Fara menabrak sesuatu di depannya. Keseimbangannya goyah. Seketika Fara terduduk di tanah yang masih basah. Perlahan kepalanya bergetar hebat. Semua seakan berputar begitu cepat. Pekat menyelimuti pandangannya yang kian buram. Sebelum gelap benar-benar menutupi pandangannya, Fara mendengar suara berat seorang lelaki yang memegang tangannya. Lembut namun kuat.
“Maaf, ‘neng. Saya nggak sengaja. Mmmm….Kalau boleh saya antarkan ‘neng ke rumah,ya? Wajah ‘neng pucat banget. Rumahnya yang mana ‘neng?” tanya pria itu. Perlahan Fara mencoba membuka matanya yang kian buram. Setelah berhasil menemukan rumah yang ia cari, Fara menunjuk ke salah satu rumah yang berwarna putih. Dan pekat benar-benar menutup matanya. Fara tak sadarkan diri.

###

“Wah… sudah sadar ‘neng?” Fara mengerjapkan matanya sekilas. Berusaha memperjelas pandangannya. Dilihatnya sekeliling. Pelan. Bi ‘Jah, Pak Min, dan… pria itu. Pria yang barusan ditabraknya. Fara berusaha bangun dari tidurnya, namun pusing itu kembali menggetarkan kepalanya. Kian berat saja kepala itu.
“Aduhhh…. Jangan bangun dulu,’neng. ‘Neng, kan baru saja sadar. Lebih baik ‘neng baring saja dulu. Saya siapkan makanan ya?” Suara Bi ‘Jah terdengar lembut di telinga Fara. Fara mengangguk. Pelan. Kembali ia berbaring di ranjangnya.
“Maaf ya,’neng. Gara-gara saya ‘neng jadi begini,” ucap pria itu. Kepalanya menunduk, seolah ia benar-benar menjadi terdakwa di situ. Di hadapan Fara.
“Nggak apa-apa,” ucap Fara sambil tersenyum kecil. “Jangan panggil aku ‘neng, dong. Memangnya aku majikan kamu? Panggil saja Fara.”
“Fara????” ucapnya sedikit histeris. Fara terpaksa mengatupkan kedua telinganya. “Velova Fara? Novelis itu? Pantas dari tadi rasanya saya familiar sekali,” ucapnya senang. Raut wajahnya dipenuhi keceriaan ketika mengetahui bahwa Fara adalah seorang novelis pujaannya. Yang selalu hadir menghiasi mimpinya.
“Saya Vino. Fans berat ‘neng Fara,” ucapnya sembari mengulurkan tangan. Uluran itu disambut hangat oleh Fara. Senyum menyembul di sudut bibir masing-masing. Dan Fara pun merasakan sebuah getaran. Entah apa itu. Fara tak bisa mengartikan getar yang terus menghangati dadanya.

###

Jakarta:
Panas menyengat menyelimuti kota ini. Asap knalpot menghambur di mana-mana. Kicau klakson mobil keras menggaung satu sama lain. Kota metropolitan yang tak pernah mati. Selalu menampilkan keglamouran hidup orang-orang borjuis. Pertarungan si Kaya dan Miskin selalu terjadi. Tak pernah usai. Seakan hanya orang yang menguasai gemerlapnya dunia yang boleh ada di kota ini. Yang lainnya tidak.
Sementara, di sebuah sudut kota metropolitan, Rendy merapikan kamar Fara yang kotor olehnya. Sampah bertaburan di mana-mana. Ranjang yang semula kusut itu telah disulap Rendy menjadi begitu rapi. Diusik lelah, Rendy segera merapatkan badannya di salah satu sisi ranjang Fara. Perlahan diambilnya foto yang bertengger manis di meja itu. Dipandangnya sekilas. Fara, saudara yang sangat disayanginya. Yang tanpa Fara pernah sadari bahwa ayah mereka satu. Pak Herdy Ryawan. Namun, ayahnya tak pernah mau mengakui keberadaan Rendy sebagai seorang anak lelakinya. Yang terlahir dari rahim seorang wanita yang pernah dihamilinya. Airmata perlahan meleleh membasahi pipi Rendy. Tanpa ia sadari sudah sebulan Fara meninggalkannya. Pekerjaan dan dirinya. Rasa kangen menguak di hati Rendy. Kangen dengan omelan, tawa, dan segalanya tentang Fara. Diletakkannya kembali foto itu di meja samping tempat tidur Fara. Sesaat tangannya terasa memegang sesuatu. Segera ia meraih barang itu. Beberapa bungkusan obat.
Rendy terhenyak melihatnya. Fara? Farakah itu?Apakah separah itu? Segera diambilnya tas yang masih tergeletak di ranjang. Rendy berlari keluar dari kamar Fara membawa bungkusan obat-obat. Obat untuk Fara.

###

Aku tak pernah berharap mencintaimu, Vin. Bila kau sudah memiliki Sherla, untuk apa kau bersamaku? Hanya untuk menyakitiku? Menyakiti Sherla?
Aku tak pernah bermaksud menyakiti kalian! Aku menyayangi kalian! Terlebih untukmu, Far. Aku tak pernah bisa melupakan bayangmu. Sejak pertama bertemu kamu!
Cinta ini tak bisa dilanjutkan, Vin. Aku yang salah. Aku terlalu memikirkanmu. Tak seharusnya aku begini. Harusnya aku tahu, kau bukan milikku, dan tak akan pernah kumiliki.
Fara… Aku mencintai kamu! Sungguh! Aku tak pernah bisa melupakan dirimu. Sisi hatiku yang lain begitu mengharapkanmu. Kamu, Fara! Bukan Sherla! Mengertilah…
Mengapa, Vin? Mengapa kamu harus mencintai aku? Dan mengapa aku mencintai kamu di saat kamu sudah memiliki dirinya? Hhhhhh…lepaskan aku. Biarkan aku pergi, Vin. Bahagiakan Sherla. Untukku.
Fara… Faraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Deg!!!!
Fara segera membuka matanya. Mimpi itu lagi. Mimpi buruk yang slalu menghiasi mimpinya 2 hari ini. Mimpi yang mengulang kejadian pahit bersama Vino kemarin. Ditangkupkan tangannya ke wajahnya yang masih bersimbah keringat dingin. Begitu perih hatinya mengingat saat itu. Saat Fara mengetahui bahwa Vino telah memiliki hati yang lain, dan bukan dirinya. Kepala Fara mulai berdenyut nyaring. Lebih keras dari biasanya. Pandangan Fara mulai berputar. Segera ia beranjak dari ranjangnya yang ikut berkeringat. Basah. Fara berjalan tertatih menuju meja riasnya. Pelan dibukanya laci meja itu. Dicarinya obat yang ia bawa dari Jakarta kemarin. Tak ada! Kekalutan mulai menghiasi wajah Fara yang memias. Dibukanya laci itu lebih lebar. Dibiarkannya barang-barang berserakan di lantai. Ke mana? Ke mana obatku? Kebingungan membayang jelas di wajah Fara yang pucat. Perlahan langkahnya semakin gontai. Akhirnya kaki itu tak sanggup lagi menopang tubuh Fara yang terasa kian berat. Fara tergugur seketika di samping ranjang itu. Nafasnya berlomba-lomba memacu keluar dari hidung dan mulut Fara. Tangannya basah oleh keringat. Pandangan Fara membuyar. Kepalanya berdenyut keras.
Perlahan pintu kamar Fara terbuka. Sosok seorang lelaki segera berlari menghampiri Fara yang sedang bertarung melawan kemelut kematian.
“Fara…. Fara….. Ada apa?? Apa yang terjadi?? Fara?” suara Vino terdengar kemudian setelah ia berhasil merengkuh tubuh Fara yang sudah kepayahan menahan penyakitnya. Fara tersenyum lemah. Dipandangnya Vino dalam-dalam. Vino yang begitu dicintanya. Yang tak mungkin dimilikinya.
“Vin, mungkin inilah saatku. Waktuku sudah tiba. A… aku letih,Vin. Sungguh. Namun, satu hal yang harus kamu tahu. Bahwa aku begitu mencintaimu. Lebih dari apapun…..”
“Fara…. Kamu ngomong apa? Kamu…”
“Ssssttttt…” jemari dingin Fara lembut menyentuh bibir Vino. “ Lebih dari itu, aku … bahagia bisa mencintaimu. Karena aku dapat merasakan apa itu cinta.” Vino menatap Fara begitu dalam. Kesedihan dan rasa pedih kembali menyelimuti dirinya. Dieratkannya rangkulan itu untuk Fara. Wanita yang begitu dicintainya. Bahkan rasa itu melebihi rasa yang pernah ia miliki untuk Sherla.
“Vino…” ucap Fara di sela sakitnya. “Bila kamu sungguh mencintaiku, bahagiakan Sherla untukku. Tuluslah mencintainya, seperti cintamu kepadaku. Dengan cara ini…. Kamu sudah mencintaiku. Lebih… dari apa yang aku minta… darimu.”

BRAAAKKKKK!!!!!

Pintu kamar Fara terbuka lebih lebar. Sekilas dilihatnya sesosok pria bertampang metroseksual berlari menghampirinya. Fara begitu mengenal wajah itu. Rendy, akhirnya kamu datang untukku. Dan perlahan pekat menutup mata Fara. Untuk selamanya.

###

Vino:
Ketika aku tak bisa memiliki dirimu dan cinta tak pernah bisa kita rengkuh, ketahuilah… bahwa hatiku selalu menjadi milikmu, dan memiliki dirimu.

Jogja, 19 Juni 2007

Lelaki di sudut pohon

cerpen
LELAKI DI SUDUT POHON
Oleh: Cynthia

Aku memandangi ia duduk di sana. Di bangku kayu reyot. Matanya menerawang jauh ke atas. Menembus langit yang semakin redup oleh waktu. Posisinya tak pernah berubah. Masih tetap menghadap arahku, sama seperti sebelumnya. Sekilas angin meniupi wajah cantik itu. Rambut panjangnya perlahan menari terbuai angin senja. Yah, angin yang kutiupkan membelai lembut wajah gadis yang tersaput mendung, yang membeku dalam dinginnya sore. Mungkin ia pun mendengar pesan yang kusampaikan.
Cressens, nama yang begitu indah. Seindah bunga mawar yang menghias wajah yang tak pernah bersinar itu. Andai saja hadirku dapat membawa sinar mentari masuk ke dalam hatinya. Tapi, tidak!!! Tak mungkin. Hadirku takkan tergapai oleh waktu. Juga dirinya. Aku hanya dapat memandangi dia dari balik pohon ini. Sambil sesekali meniupkan angin di setiap senja. Setidaknya sampai aku bisa benar-benar menunjukkan siapa diriku.
Malam kembali menutup senja dengan pekat. Hawa dingin pun menuntunnya kembali masuk ke rumah yang kian tua itu. Aku memandangi punggung yang sejak semula telah rapuh meninggalkanku. Aku membungkam dalam pekat malam. Sama seperti malam yang telah lalu. Hanya dapat kupandangi hadirnya di setiap pagi dan menghilang bila malam menjemput. Selalu. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa memandang wajah itu.
***
Pagi kembali datang. Tapi wajah itu masih tetap pucat. Seolah tak ada apapun yang bisa menerbitkan senyumannya. Dan aku masih terus berdiri di sini, memandangi Cressens tak henti.
Sesaat jengah menghampiriku. Bosan aku dengan keadaan seperti ini. Aku hanya bisa memandang sosoknya dari kejauhan. Dari balik pohon-pohon yang terkadang menutupi pandangan. Serta anganku tentangnya, saat aku bertemu nanti.
Pelan, kuberanikan diri mendekati rumah tua gagah di hadapanku. Aku takut Cressens akan menjengit lari bila bertemu aku nanti. Kupandangi wanita itu. Kupastikan wajahnya tak terkejut melihat diriku. Aku yang sesungguhnya.
“ Maaf…” wanita itu menoleh padaku. Kerutan kecil yang kian memucat menghiasi kening Cressens. Aku menoleh takut-takut kepadanya.
“ Kamu… siapa?” tanyanya kepadaku. Wajar bila Cressens tak pernah melihatku. Tak pernah sekalipun aku memunculkan diriku. Aku hanya memandangi dia tanpa memperkenalkan diri.
“ Lelaki… panggil saja aku Lelaki. Dan… kamu Cressens kan?”
“ Iya, tapi… bagaimana kamu bisa tahu namaku? Siapa yang memberikan namaku kepadamu? Aku tak pernah melihatmu berada di sekitar sini.”
“ Tentu aku tahu, nona manis. Aku sudah lama berada di sini. Hanya saja kau tak pernah melihatku. Bayangku hanya ada dalam kelam. Dan sesungguhnya aku tak tahan bila bersinggungan langsung dengan cahaya seperti ini. Tapi itu tak menjadi soal. Besarnya keinginanku untuk bertemu denganmu menjadi pelindungku. Tidakkah kau ingat angin yang tiap sore selalu membelaimu? Itulah angin dariku. Tapi aku tak yakin, apakah kau mendengar pesan yang kuselipkan setiap kali aku menyuruh angin untuk membelaimu, sebagai pengganti tubuhku.”
“ Pesan? Aku tak pernah mendengar pesan itu. Memangnya apa yang ingin kau sampaikan kepadaku, Lelaki?”
“ Hanya satu. Aku mencintaimu.”
Deg!
Rasa itu berdesir pelan di dadaku. Menghangati dada yang kian tenteram, sejak aku mengucapkan dua kata itu. Aku mencintaimu. Kata yang selalu hadir di relungku tiap hari.
“ Kamu mencintaiku? Tapi… sejak kapan? Dan bagaimana bisa, padahal aku melihatmu pun belum pernah.”
“ Cinta tak butuh apapun untuk membuktikan dirinya, Nona. Dia akan datang seiring waktu yang terus berjalan. Akupun tak tahu sejak kapan cinta ini menggerogoti hatiku. Yang ada dalam pikiranku hanya kamu, tak ada yang lain. Di setiap waktuku, Cuma ada dirimu yang selalu hadir di setiap aku mulai memejamkan mata. Tiap kali aku hendak mengarungi mimpi.”
Cressens terdiam. Pipinya merona merah kini. Aku bisa merasakan getaran di depanku. Getaran yang sama yang tercipta di hati ini. Pelan aku meraih tangan yang beku itu. Tangan ini terasa begitu dingin. Entah karena kegugupannya ataukah memang tangannya selalu dingin seperti ini. Entahlah, aku tak bisa menerka dirinya. Yang kutahu hanya Cressens menjadi lebih cantik setelah mendengar ucapanku barusan. Kuajak dia berdiri. Pelan aku mendengar lantunan lagu “Endless Love” dari kejauhan. Aku menjulurkan tangan padanya. Tanda perkenalan sekaligus ajakan berdansa. Dengan senyumnya yang menawan Cressens menerima uluran tanganku. Detik berikutnya langkah kami mulai menari, mengikuti alunan “ Endless Love”.
“ Kamu tahu, Lelaki… baru kali ini aku merasakan hangat yang seperti ini. Getaran yang bahkan membuatku tak bisa berhenti tersenyum bila mengingatnya. Aku tak pernah sebelumnya merasakan rasa ini. Rasa yang begitu memukauku. Jadi, inikah yang dinamakan orang-orang “ Cinta” ?”
Kepalaku mengangguk pelan. Kulihat senyuman kian terkembang di bibir Cressens. Hanya senyuman yang selalu kulihat, tiap kali aku memakukan pandanganku pada paras cantiknya.
***
Hari-hari selanjutnya kami rajut dengan penuh canda tawa. Tak ada waktu yang tak kulewatkan bersama Cressens. Juga di setiap malam. Di saat aku bisa leluasa menjumpainya.
“ Kamu tak takut melihat rupaku, Cressens?” tanyaku pada suatu malam. Kupandangi matanya lekat-lekat. Mata berwarna biru yang sudah tak lagi memancarkan kesunyian seperti dulu. Cresssens pun memandangi mataku. Seketika dada ini bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Wajahku pun ikut memerah mengikuti hentakan getaran yang terus menghangati dadaku.
“ Untuk apa aku takut bertemu denganmu? Aku sudah senang dengan adanya hadirmu menemaniku setiap malam. Setidaknya aku tidak bosan hingga waktu tiba menjemputku.”
“ Tetapi, wajahku begitu buruk.” ucapku, pelan. Aku hanya memandangi lantai kayu yang kupijak. Tak berani aku memakukan pandangan ke arahnya. Aku takut, jawaban yang pernah diberikan orang-orang akan diucapkan lagi oleh bibir mungil di hadapanku ini. Lama kutunggu jawaban itu, tetapi tak ada sebaitpun kata keluar dari bibirnya. Hanya deru nafasnya yang terasa makin menghangat di pipiku. Pelan, kutolehkan kepala untuk menghadap Cressens. Kini paras manis itu berada tepat di depanku. Entah di menit yang keberapa, akhirnya bibirku mulai menyentuh lembut bibirnya. Hangat.
***
Esoknya, aku mendatangi rumah itu. Rumah tua yang seharusnya sudah tak dapat terpakai lagi. Selalu rasa heran menyelimutiku tiap kali aku menginjakkan kaki di taman yang kian mengering. Mengapa Cressens bisa merasa nyaman tiap kali memandangi taman yang tak berbunga ini?
Hari ini Cressens tak ada di luar seperti biasanya. Bangku yang biasa ia duduki terasa dingin. Kupandangi sekeliling rumah yang reyot itu. Masih juga tak ada tanda-tanda kehadirannya. Rasa heran kembali menyergapku. Pelan kuketok pintu kayu berwarna coklat keunguan yang terbentang di hadapanku. Tak ada suara. Tak ada siapapun yang menyahut ketokan pintu ini. Hampir aku putus asa, ketika seorang lelaki tua menyentuh pundakku.
“ Tak usah kau cari, nak. Dia sudah tak ada!”
“ Maksud bapak? Cressens? Bapak tahu kemana dia pergi? Beritahu saya, pak. Saya harus mencarinya!” ucapku sambil memegang bapak tua itu. Berusaha meyakinkannya.
“ Dia telah tiada, nak. Kecelakaan lima tahun yang lalu telah membuatnya meninggalkan dunia ini.”
Aku tergugu seketika mendengar perkataan barusan. Rasa sakit menyengat hatiku. Jadi, siapakah yang selama ini selalu kupeluk tiap kali dingin menyergapku? Menyergap kami?
Pelan langkah kaki tua itu menjauh. Meninggalkan bekas airmata yang terjatuh di lantai kayu kecoklatan. Mungkin dia juga merasakan rasa sakit yang sama denganku. Mungkin lebih lama dan lebih perih. Hanya kemungkinan yang berputar di otakku. Airmata pun turun membasahi pipi. Detik selanjutnya hanya erangan perih yang menggema dari bibirku. Membelah malam yang semakin sunyi.
***
Aku semakin membungkam dalam sepi. Berteman dengan bintang malam, aku masih diam. Mengkhayalkan saat-saat indah bersama Cressens. Saat hadirnya masih menemaniku. Kini, bayangnya pun tak dapat kugapai.
Malam beranjak semakin naik. Menutup pepohonan yang tumbuh rindang di antara tubuhku dengan embunnya. Aku kembali melihat langit malam yang bertabur bintang. Berharap Cressens melihatku sambil tersenyum.
Argggghhhh!!!
Perlahan nafasku menderu. Aku merasakan sakit yang luar biasa mencengkram jantung. Kupegang dada ini kuat. Perih. Segera tubuhku mengguling hebat di rerumputan yang terasa kering. Dadaku memanas. Inikah saatnya? Saat aku bisa kembali bertemu dengan Cressens lagi. Menemaninya, hingga ia tak lagi merasa sunyi seperti sekarang. Satu persatu nafasku mulai menghilang. Pandanganku pun mengabur bersama lemasnya tubuh ini. Yah, tubuh berbalut bulu-bulu srigala yang diwariskan kepadaku setiap kali bulan purnama menampakkan wujudnya. Pelan tubuhku menggontai. Hingga akhirnya pandanganku mengabur dan hilang.
Jogja, 13/08/07

aku dan seribu malam tanpamu

aku dan seribu malam tanpamu...

entahlah sayang...
ada seribu kata yang mengiris hatiku ketika aku kembali mencumbui bayangmu dalam mimpi.
ada seribu kota pula yang menghilang ketika jejakmu pergi.
ribuan kalut dan rindu bercinta dalam sepiku
malam ini...

sudahkah kau tidur, sayang?
saat lelapku ingin mengunjungi lelahmu
malam ini..?

berjalanlah di pinggiran seribu sungai, sayang
akan kau temui aku menangis memeluk seraut kelammu
malam ini...


(aku kangen, sayang... )

jeritan malam ini

sudut-sudut hatiku meneriaki namamu sepanjang hujan sore ini... ada sebuah kenangan yang tak bisa kuhapus ketika bayangmu nampak di kota tua itu... masihkah kau mengingat secarik namaku kala lelap menghampirimu?
aku letih bermain dengan puzzle yang tak berujung setiap waktu, menghitung detak-detak jam, kapankah kau akan kembali dalam serbuan peluk yang tertunda?
ya...
salahkanku jika semua ini kembali menyakitimu...