Selasa, 27 Oktober 2009

Ketika cinta adalah sebuah kesalahan

Ketika Cinta Adalah Sebuah Kesalahan


ketika embun itu kurengkuh
aku melihat kilat bayangmu
sekilas….
Hanya sekilas…
Sehingga ku pun tahu
Bahwa bayang itu
adalah doktrin
Untuk jiwa yang beku
Dan akulah…..

---------------------------------senin

Fara menutup lembaran terakhir diarynya. Lembaran yang terakhir pula yang menghiasi malamnya. Dingin dan kaku. Fara menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dingin terasa kian menyengat tubuh Fara yang mungil. Sejenak direbahkan kepalanya di bantal. Mata Fara menerawang. Mengingat kejadian saat itu. Setahun yang lalu. Saat ia bertemu sebelah hati yang tak mungkin dimilikinya.
Vino, nama indah seorang pria yang pernah begitu ia cinta. Namun pernah pula dibencinya. Yang pernah mengisi harinya dengan canda tawa, tapi pernah pula mengiris hatinya hingga ia terkulai perih. Perlahan Fara memejamkan mata, mengingat kembali kejadian yang pernah dialaminya. Bersama Vino. Sekilas kantuk perlahan menyerangnya, hingga akhirnya Fara benar-benar dibawa pergi sang dewa mimpi. Mengembara menuju samudra mimpi yang begitu panjang.

###

Fara kini telah sampai di villanya di kawasan Puncak, Bogor. Dihirupnya perlahan udara Puncak yang begitu dingin dan lembut. Angin Puncak sesekali berhembus perlahan meniup wajahnya yang manis. Seolah mengajak bercanda. Tak ada yang berubah dari daerah itu. Letak perkebunan teh yang persis di depan villa peninggalan almarhumah ayah dan bundanya, taman mawar putih yang dibangun di pekarangan villa bertingkat dua itu, aroma daun teh yang merebak diikuti wangi mawar putih masih ada. Sekilas kenangan 16 tahun yang lalu membuka kembali. Saat masih bersama ayah dan bundanya. Entah sudah berapa lama kenangan itu terkubur bersama kesendiriannya. Bersama sunyinya mengarungi hidup yang begitu kejam. Fara menghela nafas. Berat.
Diletakkannya barang-barang bawaan yang ringan dari Jakarta. Disuruhnya Pak Min, tukang kebun di villanya mengangkut barang-barang itu dari Honda Jazz yang ia kendarai sendirian dari Jakarta tadi sore. Tak ada yang mengetahui kepergian Fara sore ini. Pun Rendy, sang manager yang berperawakan atletis dan begitu tampan.
“Sudah, ‘Neng. Barang-barang sudah Bapak taruh di kamar ‘Neng. Sekarang ‘Neng mau apa? Mau kopi? Atau mau mandi dulu? Nanti saya suruh Bi ‘Jah menyiapkannya untuk ‘Neng.” Tawar Pak Min. Bi ‘Jah adalah pembantu yang sudah mengabdi kepada Fara dan orangtuanya dari kecil. Tipikal pembantu yang begitu setia. Dengan perawakan tubuh yang lumayan gemuk membuat Fara tenang di pelukannya. Sosok perempuan Jawa yang tegar namun lembut. Membuat Fara semakin betah.
“Nggak, Pak. Nanti saja. Saya masih mau menikmati Puncak dulu,” Fara tersenyum kecil kepada Pak Min. Seorang tukang kebun yang ulet dan cekatan. Dengan badan kecil yang dimilikinya, Pak Min menjadi lebih terampil menata tanaman pohon di pekarangannya, juga taman mawar putih itu.
Fara melangkahkan kaki menuju kamarnya. Menyetir dari Jakarta ke Puncak membuatnya letih. Disentuhnya ranjang yang sudah ia tinggalkan dua tahun yang lalu. Dingin. Mungkin karena pengaruh udara Puncak yang bertemperatur rendah. Perlahan direbahkan tubuhnya yang mungil. Menikmati malam Puncak yang begitu kaku dan dingin. Sesekali diliriknya jendela yang berdiri megah dan besar dari sudut matanya. Bintang bertaburan di langit. Warnanya yang putih kian terang dan menyala. Serasa bagaikan lautan bintang yang menghiasi kamarnya malam itu. Juga tidurnya.

###

Kring…!!!! Kring…!!!

Jam weker berbunyi nyaring. Membangunkan Fara dari lelapnya. Dengan mata terpejam diraihnya weker itu. 06.45. Masih pagi, ucap Fara dalam hati. Tak biasanya Fara bangun jam sekian. Maklum, Fara adalah seorang novelis dengan berbagai kejaran deadline. Pekerjaannya yang begitu menyita waktunya membuat Fara membutuhkan sentuhan seorang manajer. Dan Rendy adalah salah seorang dari sekian banyak temannya yang bisa Fara jadikan seorang manajer.
Fara bangkit dari ranjangnya yang kusut. Begitu lelapkah ia semalam sehingga tak menyadari apa yang diperbuatnya selama tidur? Fara tersenyum geli. Segera dibukanya tirai ungu yang menutupi jendelanya. Perlahan udara segar merayap masuk dari sudut-sudut jendelanya. Sejuk. Dibukanya lebih lebar lagi jendela berdaun lebar dan panjang itu. Suara burung yang berkicauan mengalun merdu di telinga Fara. Dihirupnya hawa pagi yang ditawarkan Puncak kepadanya. Dingin dan nyaman. Fara merasa seperti kembali lagi ke masa itu. Masa kanak-kanaknya dulu.

Tiba-tiba ponsel Fara berbunyi. Lagu “Endless Love” mengalun pelan. Segera ia raih dan dilihatnya nama yang berkilat-kilat di ponsel itu. Rendy. Ada rasa jengah saat dilihatnya nama itu yang muncul. Dengan sejuta rasa malas Fara mengangkat telepon itu.
“Faraaaaaaa……..!!!!!!!” bentak sang penelepon ketika panggilannya diangkat Fara. Fara segera menjauhkan telinga dari corong pendengaran di ponsel itu. Kepalanya berdengung mendengar teriakan sang manajer. Fara tahu, Rendy pasti sangat emosi mendapati Fara tak berada di kamar apartemennya.
“Iya, ada apa, Ren? Pagi- pagi begini sudah teriak-teriak. Mau cepet tua, lo?” ucap Fara kesal.
“Fara…. Lo di mana? Lo tahu kan, deadline naskah novel lo tinggal 2 minggu lagi. Sedangkan sekarang lo pergi nggak jelas gini. Apalagi hari ini lo ada jadwal sama redaktur penerbit. Gimana, sih?” Suara cempreng Rendy menggaung di telinga Fara. Fara kembali menjauhkan ponsel dari telinga. Kerutan segera menghiasi wajah Fara. Rencana menyegarkan harinya yang penat sesaat sebelum merampungkan naskah novelnya seketika sirna. Didekatkannya lagi ponsel itu ke telinganya.
“Jadwal itu kan lo yang buat. Bukan gue! Kalo lo mau, lo aja yang ngejalanin schedule itu. Gw cape!” ucap Fara berang. Wajahnya memerah menahan amarah yang sejak kemarin dipendamnya. Kesal yang bertumpuk untuk seorang Rendy.
“Fara!! Listen to me! You can’t do this! I’m still your manager, and you must obey me! Do you understand??” pekik Rendy lagi. Lebih keras dari biasanya, membuat kejengkelan Fara semakin memuncak.
“As you know… I don’t want to understand! Terserah lo, Ren! Yang pasti gue baru balik ke Jakarta bulan depan!”
“But, Far…. You can’t do this! You still…”

Tuut….. Tuut………

Fara mematikan ponselnya. Rasa kesal menyelimuti hati Fara. Dibantingnya ponsel ke ranjang. Setengah berlari Fara masuk ke kamar mandi. Mungkin setelah mandi, ia akan mendapatkan kesegaran harinya lagi.

###

“Sial!!” pekik Rendy untuk yang kesekian kalinya. Dibantingnya ponsel ke ranjang. Wajahnya menjadi muram. Dion yang sedari tadi duduk memerhatikan tingkah Rendy, kekasihnya, segera berdiri menghampirinya. Dielusnya pipi yang bersemu merah karena amarah itu. Lembut. Senyum mungil tersungging dari sudut bibir Dion. Ditenggelamkannya kepala Rendy dalam pelukan terhangat yang dimilikinya. Membuat Rendy merasa nyaman ketika berada di pelukannya. Perlahan air mata bergulir di pipi Rendy.
“Sabar, sayang. Mungkin Fara butuh waktu untuk sendiri. Kulihat, Fara begitu jenuh dengan semua schedule yang kamu kasih,” hibur Dion lembut. Rendy merasa semakin aman di dalamnya. Dion adalah lelaki pertama untuknya setelah Rendy memutuskan mencintai seorang pria. Setelah ia mengalami kesakitan yang begitu perih. Setelah kebersamaannya bersama Stella yang harus berakhir saat Stella memilih pria lain yang lebih darinya. Sejak itu Rendy mulai membenci semua wanita. Namun tidak ibunya. Hanya ibunya, seorang wanita yang masih bisa ia sayangi. Lainnya tidak. Ditambah lagi pergaulan Rendy yang serba metroseksual dan kebanyakan kaum gay. Hingga Rendy bertemu Dion. Lelaki jantan namun lembut. Di balik kekakuannya tersimpan sebuah jiwa romantis yang mampu meluluhkan hati seorang Rendy. Sesosok pria yang tampan, namun begitu rapuh. Beruntunglah Rendy bertemu Dion dan memilikinya.
“Asal kamu tahu, Di… Aku juga jenuh. Setiap hari slalu aku yang dipersalahkan bila Fara tak mau memenuhi jadwal itu. Aku letih, Di.”
“Kamu juga perlu istirahat, say. Take a rest, first. I think you must get it,” ucap Dion lembut. Dikecupnya kening Rendy. Perlahan tangis Rendy mulai mereda. Tiba-tiba ponsel Rendy bergetar. Sesaat. Dilepaskannya pelukan Dion yang sedari tadi melingkar erat di pinggangnya. Diraihnya ponsel berwarna merah itu dan dilihatnya. Sebuah sms masuk.

Gw akan kirim naskah novel gw lewat internet. Jadi lo nggak usah khawatir. Gw balik bulan depan. So, nikmati aja waktu lo berdua bareng Dion. Bulan ini lo libur dulu. Have a nice holiday.

Sender:
Fara
+6281931783817

Sent:
07:15:07am
18 June 2007

Pandangan Rendy menusuk tajam ke ponselnya. Amarah yang tadi sudah turun kini menggelegak lagi. Matanya nanar. Merah. Diraihnya tas dan berlari meninggalkan kamar apartemen Fara. Dion yang kebingungan segera menyusulnya. Setelah sebelumnya mengunci kamar Fara yang masih menganga lebar.

###

Ingatan Fara kembali terusik oleh deadline yang menghantuinya setiap waktu. Naskah novelnya ditunggu redaksi percetakan dengan batas waktu 2 minggu lagi. Terlalu singkat untuknya. Untunglah notebooknya mempunyai fasilitas untuk browsing internet. Setidaknya ia sudah mengirimkan sms kepada Rendy bahwa naskah itu akan dikirimnya lewat internet. Jadi Fara tak usah terlalu bingung lagi menghadapi Rendy. Satu masalah berkurang.
Perlahan dilangkahkan kakinya menuju taman mawar putih kesukaannya. Diciumnya beberapa tangkai mawar putih itu. Harum. Seharum hawa pegunungan ini. Sedikit berlari kecil ia keluar menyusuri ladang perkebunan teh yang terhampar luas di hadapannya. Direntangkannya tangan lebar-lebar. Seolah Fara akan memeluk semua sudut Puncak ini. Ditelusurinya jalan setapak yang lurus menurun itu. Sesekali dilihatnya beberapa wanita yang bersenda gurau sambil memetik daun-daun teh. Senyum kebahagiaan terlepas dari wajah mereka yang masih segar disentuh hawa Puncak yang dingin dan lembut. Dipejamkannya mata beberapa saat. Mengusik kembali kenangan yang terkubur bersama ayah bundanya. 16 tahun yang lalu.




“Ayah… Bunga mawarnya indah,ya? ‘Ra boleh minta?” tanya Fara pada ayahnya. Senyum melebar di kedua sudut bibir ayahnya. Dirangkulnya gadis kecil itu lembut. Kelembutan seorang ayah. Tangan kecil Fara berusaha meraih mawar putih itu. Namun tangannya tak pernah sampai. Kerutan-kerutan kecil menghiasi dahi Fara yang mungil.
“Iya, sayang. Tapi nanti, ya? Jangan sekarang,” sahut ayahnya pelan. Dihampiri dan diusapnya kepala gadis kesayangannya itu sambil tersenyum. Fara pun ikut tersenyum ketika melihat sang ayah tersenyum. Mendung di hatinya tersapu oleh kelembutan senyum serta rangkulan seorang ayah.
“Kapan, Yah? Kapan ‘Ra boleh minta?” ucapnya polos. Keluguan seorang anak kecil terpancar dari kedua matanya yang indah. Laksana mata seorang bidadari yang menatap dengan indahnya.
“Nanti, sayang. ‘Ra boleh minta kalau sudah beritahu Bunda. Ya, sayang?”
“Jadi benar, Yah? ‘Ra boleh petik bunga mawar putih ini? Horeeee!!!!” Fara berlari mengitari halaman villanya. Sesekali diciumnya bunga mawar putih itu. Lembut. Ayahnya tersenyum geli melihat tingkah sang bidadari mungilnya yang masih berlari-lari di kebun itu.



Brukkkk!!!!!

Fara menabrak sesuatu di depannya. Keseimbangannya goyah. Seketika Fara terduduk di tanah yang masih basah. Perlahan kepalanya bergetar hebat. Semua seakan berputar begitu cepat. Pekat menyelimuti pandangannya yang kian buram. Sebelum gelap benar-benar menutupi pandangannya, Fara mendengar suara berat seorang lelaki yang memegang tangannya. Lembut namun kuat.
“Maaf, ‘neng. Saya nggak sengaja. Mmmm….Kalau boleh saya antarkan ‘neng ke rumah,ya? Wajah ‘neng pucat banget. Rumahnya yang mana ‘neng?” tanya pria itu. Perlahan Fara mencoba membuka matanya yang kian buram. Setelah berhasil menemukan rumah yang ia cari, Fara menunjuk ke salah satu rumah yang berwarna putih. Dan pekat benar-benar menutup matanya. Fara tak sadarkan diri.

###

“Wah… sudah sadar ‘neng?” Fara mengerjapkan matanya sekilas. Berusaha memperjelas pandangannya. Dilihatnya sekeliling. Pelan. Bi ‘Jah, Pak Min, dan… pria itu. Pria yang barusan ditabraknya. Fara berusaha bangun dari tidurnya, namun pusing itu kembali menggetarkan kepalanya. Kian berat saja kepala itu.
“Aduhhh…. Jangan bangun dulu,’neng. ‘Neng, kan baru saja sadar. Lebih baik ‘neng baring saja dulu. Saya siapkan makanan ya?” Suara Bi ‘Jah terdengar lembut di telinga Fara. Fara mengangguk. Pelan. Kembali ia berbaring di ranjangnya.
“Maaf ya,’neng. Gara-gara saya ‘neng jadi begini,” ucap pria itu. Kepalanya menunduk, seolah ia benar-benar menjadi terdakwa di situ. Di hadapan Fara.
“Nggak apa-apa,” ucap Fara sambil tersenyum kecil. “Jangan panggil aku ‘neng, dong. Memangnya aku majikan kamu? Panggil saja Fara.”
“Fara????” ucapnya sedikit histeris. Fara terpaksa mengatupkan kedua telinganya. “Velova Fara? Novelis itu? Pantas dari tadi rasanya saya familiar sekali,” ucapnya senang. Raut wajahnya dipenuhi keceriaan ketika mengetahui bahwa Fara adalah seorang novelis pujaannya. Yang selalu hadir menghiasi mimpinya.
“Saya Vino. Fans berat ‘neng Fara,” ucapnya sembari mengulurkan tangan. Uluran itu disambut hangat oleh Fara. Senyum menyembul di sudut bibir masing-masing. Dan Fara pun merasakan sebuah getaran. Entah apa itu. Fara tak bisa mengartikan getar yang terus menghangati dadanya.

###

Jakarta:
Panas menyengat menyelimuti kota ini. Asap knalpot menghambur di mana-mana. Kicau klakson mobil keras menggaung satu sama lain. Kota metropolitan yang tak pernah mati. Selalu menampilkan keglamouran hidup orang-orang borjuis. Pertarungan si Kaya dan Miskin selalu terjadi. Tak pernah usai. Seakan hanya orang yang menguasai gemerlapnya dunia yang boleh ada di kota ini. Yang lainnya tidak.
Sementara, di sebuah sudut kota metropolitan, Rendy merapikan kamar Fara yang kotor olehnya. Sampah bertaburan di mana-mana. Ranjang yang semula kusut itu telah disulap Rendy menjadi begitu rapi. Diusik lelah, Rendy segera merapatkan badannya di salah satu sisi ranjang Fara. Perlahan diambilnya foto yang bertengger manis di meja itu. Dipandangnya sekilas. Fara, saudara yang sangat disayanginya. Yang tanpa Fara pernah sadari bahwa ayah mereka satu. Pak Herdy Ryawan. Namun, ayahnya tak pernah mau mengakui keberadaan Rendy sebagai seorang anak lelakinya. Yang terlahir dari rahim seorang wanita yang pernah dihamilinya. Airmata perlahan meleleh membasahi pipi Rendy. Tanpa ia sadari sudah sebulan Fara meninggalkannya. Pekerjaan dan dirinya. Rasa kangen menguak di hati Rendy. Kangen dengan omelan, tawa, dan segalanya tentang Fara. Diletakkannya kembali foto itu di meja samping tempat tidur Fara. Sesaat tangannya terasa memegang sesuatu. Segera ia meraih barang itu. Beberapa bungkusan obat.
Rendy terhenyak melihatnya. Fara? Farakah itu?Apakah separah itu? Segera diambilnya tas yang masih tergeletak di ranjang. Rendy berlari keluar dari kamar Fara membawa bungkusan obat-obat. Obat untuk Fara.

###

Aku tak pernah berharap mencintaimu, Vin. Bila kau sudah memiliki Sherla, untuk apa kau bersamaku? Hanya untuk menyakitiku? Menyakiti Sherla?
Aku tak pernah bermaksud menyakiti kalian! Aku menyayangi kalian! Terlebih untukmu, Far. Aku tak pernah bisa melupakan bayangmu. Sejak pertama bertemu kamu!
Cinta ini tak bisa dilanjutkan, Vin. Aku yang salah. Aku terlalu memikirkanmu. Tak seharusnya aku begini. Harusnya aku tahu, kau bukan milikku, dan tak akan pernah kumiliki.
Fara… Aku mencintai kamu! Sungguh! Aku tak pernah bisa melupakan dirimu. Sisi hatiku yang lain begitu mengharapkanmu. Kamu, Fara! Bukan Sherla! Mengertilah…
Mengapa, Vin? Mengapa kamu harus mencintai aku? Dan mengapa aku mencintai kamu di saat kamu sudah memiliki dirinya? Hhhhhh…lepaskan aku. Biarkan aku pergi, Vin. Bahagiakan Sherla. Untukku.
Fara… Faraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Deg!!!!
Fara segera membuka matanya. Mimpi itu lagi. Mimpi buruk yang slalu menghiasi mimpinya 2 hari ini. Mimpi yang mengulang kejadian pahit bersama Vino kemarin. Ditangkupkan tangannya ke wajahnya yang masih bersimbah keringat dingin. Begitu perih hatinya mengingat saat itu. Saat Fara mengetahui bahwa Vino telah memiliki hati yang lain, dan bukan dirinya. Kepala Fara mulai berdenyut nyaring. Lebih keras dari biasanya. Pandangan Fara mulai berputar. Segera ia beranjak dari ranjangnya yang ikut berkeringat. Basah. Fara berjalan tertatih menuju meja riasnya. Pelan dibukanya laci meja itu. Dicarinya obat yang ia bawa dari Jakarta kemarin. Tak ada! Kekalutan mulai menghiasi wajah Fara yang memias. Dibukanya laci itu lebih lebar. Dibiarkannya barang-barang berserakan di lantai. Ke mana? Ke mana obatku? Kebingungan membayang jelas di wajah Fara yang pucat. Perlahan langkahnya semakin gontai. Akhirnya kaki itu tak sanggup lagi menopang tubuh Fara yang terasa kian berat. Fara tergugur seketika di samping ranjang itu. Nafasnya berlomba-lomba memacu keluar dari hidung dan mulut Fara. Tangannya basah oleh keringat. Pandangan Fara membuyar. Kepalanya berdenyut keras.
Perlahan pintu kamar Fara terbuka. Sosok seorang lelaki segera berlari menghampiri Fara yang sedang bertarung melawan kemelut kematian.
“Fara…. Fara….. Ada apa?? Apa yang terjadi?? Fara?” suara Vino terdengar kemudian setelah ia berhasil merengkuh tubuh Fara yang sudah kepayahan menahan penyakitnya. Fara tersenyum lemah. Dipandangnya Vino dalam-dalam. Vino yang begitu dicintanya. Yang tak mungkin dimilikinya.
“Vin, mungkin inilah saatku. Waktuku sudah tiba. A… aku letih,Vin. Sungguh. Namun, satu hal yang harus kamu tahu. Bahwa aku begitu mencintaimu. Lebih dari apapun…..”
“Fara…. Kamu ngomong apa? Kamu…”
“Ssssttttt…” jemari dingin Fara lembut menyentuh bibir Vino. “ Lebih dari itu, aku … bahagia bisa mencintaimu. Karena aku dapat merasakan apa itu cinta.” Vino menatap Fara begitu dalam. Kesedihan dan rasa pedih kembali menyelimuti dirinya. Dieratkannya rangkulan itu untuk Fara. Wanita yang begitu dicintainya. Bahkan rasa itu melebihi rasa yang pernah ia miliki untuk Sherla.
“Vino…” ucap Fara di sela sakitnya. “Bila kamu sungguh mencintaiku, bahagiakan Sherla untukku. Tuluslah mencintainya, seperti cintamu kepadaku. Dengan cara ini…. Kamu sudah mencintaiku. Lebih… dari apa yang aku minta… darimu.”

BRAAAKKKKK!!!!!

Pintu kamar Fara terbuka lebih lebar. Sekilas dilihatnya sesosok pria bertampang metroseksual berlari menghampirinya. Fara begitu mengenal wajah itu. Rendy, akhirnya kamu datang untukku. Dan perlahan pekat menutup mata Fara. Untuk selamanya.

###

Vino:
Ketika aku tak bisa memiliki dirimu dan cinta tak pernah bisa kita rengkuh, ketahuilah… bahwa hatiku selalu menjadi milikmu, dan memiliki dirimu.

Jogja, 19 Juni 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar