cerpen
LELAKI DI SUDUT POHON
Oleh: Cynthia
Aku memandangi ia duduk di sana. Di bangku kayu reyot. Matanya menerawang jauh ke atas. Menembus langit yang semakin redup oleh waktu. Posisinya tak pernah berubah. Masih tetap menghadap arahku, sama seperti sebelumnya. Sekilas angin meniupi wajah cantik itu. Rambut panjangnya perlahan menari terbuai angin senja. Yah, angin yang kutiupkan membelai lembut wajah gadis yang tersaput mendung, yang membeku dalam dinginnya sore. Mungkin ia pun mendengar pesan yang kusampaikan.
Cressens, nama yang begitu indah. Seindah bunga mawar yang menghias wajah yang tak pernah bersinar itu. Andai saja hadirku dapat membawa sinar mentari masuk ke dalam hatinya. Tapi, tidak!!! Tak mungkin. Hadirku takkan tergapai oleh waktu. Juga dirinya. Aku hanya dapat memandangi dia dari balik pohon ini. Sambil sesekali meniupkan angin di setiap senja. Setidaknya sampai aku bisa benar-benar menunjukkan siapa diriku.
Malam kembali menutup senja dengan pekat. Hawa dingin pun menuntunnya kembali masuk ke rumah yang kian tua itu. Aku memandangi punggung yang sejak semula telah rapuh meninggalkanku. Aku membungkam dalam pekat malam. Sama seperti malam yang telah lalu. Hanya dapat kupandangi hadirnya di setiap pagi dan menghilang bila malam menjemput. Selalu. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa memandang wajah itu.
***
Pagi kembali datang. Tapi wajah itu masih tetap pucat. Seolah tak ada apapun yang bisa menerbitkan senyumannya. Dan aku masih terus berdiri di sini, memandangi Cressens tak henti.
Sesaat jengah menghampiriku. Bosan aku dengan keadaan seperti ini. Aku hanya bisa memandang sosoknya dari kejauhan. Dari balik pohon-pohon yang terkadang menutupi pandangan. Serta anganku tentangnya, saat aku bertemu nanti.
Pelan, kuberanikan diri mendekati rumah tua gagah di hadapanku. Aku takut Cressens akan menjengit lari bila bertemu aku nanti. Kupandangi wanita itu. Kupastikan wajahnya tak terkejut melihat diriku. Aku yang sesungguhnya.
“ Maaf…” wanita itu menoleh padaku. Kerutan kecil yang kian memucat menghiasi kening Cressens. Aku menoleh takut-takut kepadanya.
“ Kamu… siapa?” tanyanya kepadaku. Wajar bila Cressens tak pernah melihatku. Tak pernah sekalipun aku memunculkan diriku. Aku hanya memandangi dia tanpa memperkenalkan diri.
“ Lelaki… panggil saja aku Lelaki. Dan… kamu Cressens kan?”
“ Iya, tapi… bagaimana kamu bisa tahu namaku? Siapa yang memberikan namaku kepadamu? Aku tak pernah melihatmu berada di sekitar sini.”
“ Tentu aku tahu, nona manis. Aku sudah lama berada di sini. Hanya saja kau tak pernah melihatku. Bayangku hanya ada dalam kelam. Dan sesungguhnya aku tak tahan bila bersinggungan langsung dengan cahaya seperti ini. Tapi itu tak menjadi soal. Besarnya keinginanku untuk bertemu denganmu menjadi pelindungku. Tidakkah kau ingat angin yang tiap sore selalu membelaimu? Itulah angin dariku. Tapi aku tak yakin, apakah kau mendengar pesan yang kuselipkan setiap kali aku menyuruh angin untuk membelaimu, sebagai pengganti tubuhku.”
“ Pesan? Aku tak pernah mendengar pesan itu. Memangnya apa yang ingin kau sampaikan kepadaku, Lelaki?”
“ Hanya satu. Aku mencintaimu.”
Deg!
Rasa itu berdesir pelan di dadaku. Menghangati dada yang kian tenteram, sejak aku mengucapkan dua kata itu. Aku mencintaimu. Kata yang selalu hadir di relungku tiap hari.
“ Kamu mencintaiku? Tapi… sejak kapan? Dan bagaimana bisa, padahal aku melihatmu pun belum pernah.”
“ Cinta tak butuh apapun untuk membuktikan dirinya, Nona. Dia akan datang seiring waktu yang terus berjalan. Akupun tak tahu sejak kapan cinta ini menggerogoti hatiku. Yang ada dalam pikiranku hanya kamu, tak ada yang lain. Di setiap waktuku, Cuma ada dirimu yang selalu hadir di setiap aku mulai memejamkan mata. Tiap kali aku hendak mengarungi mimpi.”
Cressens terdiam. Pipinya merona merah kini. Aku bisa merasakan getaran di depanku. Getaran yang sama yang tercipta di hati ini. Pelan aku meraih tangan yang beku itu. Tangan ini terasa begitu dingin. Entah karena kegugupannya ataukah memang tangannya selalu dingin seperti ini. Entahlah, aku tak bisa menerka dirinya. Yang kutahu hanya Cressens menjadi lebih cantik setelah mendengar ucapanku barusan. Kuajak dia berdiri. Pelan aku mendengar lantunan lagu “Endless Love” dari kejauhan. Aku menjulurkan tangan padanya. Tanda perkenalan sekaligus ajakan berdansa. Dengan senyumnya yang menawan Cressens menerima uluran tanganku. Detik berikutnya langkah kami mulai menari, mengikuti alunan “ Endless Love”.
“ Kamu tahu, Lelaki… baru kali ini aku merasakan hangat yang seperti ini. Getaran yang bahkan membuatku tak bisa berhenti tersenyum bila mengingatnya. Aku tak pernah sebelumnya merasakan rasa ini. Rasa yang begitu memukauku. Jadi, inikah yang dinamakan orang-orang “ Cinta” ?”
Kepalaku mengangguk pelan. Kulihat senyuman kian terkembang di bibir Cressens. Hanya senyuman yang selalu kulihat, tiap kali aku memakukan pandanganku pada paras cantiknya.
***
Hari-hari selanjutnya kami rajut dengan penuh canda tawa. Tak ada waktu yang tak kulewatkan bersama Cressens. Juga di setiap malam. Di saat aku bisa leluasa menjumpainya.
“ Kamu tak takut melihat rupaku, Cressens?” tanyaku pada suatu malam. Kupandangi matanya lekat-lekat. Mata berwarna biru yang sudah tak lagi memancarkan kesunyian seperti dulu. Cresssens pun memandangi mataku. Seketika dada ini bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Wajahku pun ikut memerah mengikuti hentakan getaran yang terus menghangati dadaku.
“ Untuk apa aku takut bertemu denganmu? Aku sudah senang dengan adanya hadirmu menemaniku setiap malam. Setidaknya aku tidak bosan hingga waktu tiba menjemputku.”
“ Tetapi, wajahku begitu buruk.” ucapku, pelan. Aku hanya memandangi lantai kayu yang kupijak. Tak berani aku memakukan pandangan ke arahnya. Aku takut, jawaban yang pernah diberikan orang-orang akan diucapkan lagi oleh bibir mungil di hadapanku ini. Lama kutunggu jawaban itu, tetapi tak ada sebaitpun kata keluar dari bibirnya. Hanya deru nafasnya yang terasa makin menghangat di pipiku. Pelan, kutolehkan kepala untuk menghadap Cressens. Kini paras manis itu berada tepat di depanku. Entah di menit yang keberapa, akhirnya bibirku mulai menyentuh lembut bibirnya. Hangat.
***
Esoknya, aku mendatangi rumah itu. Rumah tua yang seharusnya sudah tak dapat terpakai lagi. Selalu rasa heran menyelimutiku tiap kali aku menginjakkan kaki di taman yang kian mengering. Mengapa Cressens bisa merasa nyaman tiap kali memandangi taman yang tak berbunga ini?
Hari ini Cressens tak ada di luar seperti biasanya. Bangku yang biasa ia duduki terasa dingin. Kupandangi sekeliling rumah yang reyot itu. Masih juga tak ada tanda-tanda kehadirannya. Rasa heran kembali menyergapku. Pelan kuketok pintu kayu berwarna coklat keunguan yang terbentang di hadapanku. Tak ada suara. Tak ada siapapun yang menyahut ketokan pintu ini. Hampir aku putus asa, ketika seorang lelaki tua menyentuh pundakku.
“ Tak usah kau cari, nak. Dia sudah tak ada!”
“ Maksud bapak? Cressens? Bapak tahu kemana dia pergi? Beritahu saya, pak. Saya harus mencarinya!” ucapku sambil memegang bapak tua itu. Berusaha meyakinkannya.
“ Dia telah tiada, nak. Kecelakaan lima tahun yang lalu telah membuatnya meninggalkan dunia ini.”
Aku tergugu seketika mendengar perkataan barusan. Rasa sakit menyengat hatiku. Jadi, siapakah yang selama ini selalu kupeluk tiap kali dingin menyergapku? Menyergap kami?
Pelan langkah kaki tua itu menjauh. Meninggalkan bekas airmata yang terjatuh di lantai kayu kecoklatan. Mungkin dia juga merasakan rasa sakit yang sama denganku. Mungkin lebih lama dan lebih perih. Hanya kemungkinan yang berputar di otakku. Airmata pun turun membasahi pipi. Detik selanjutnya hanya erangan perih yang menggema dari bibirku. Membelah malam yang semakin sunyi.
***
Aku semakin membungkam dalam sepi. Berteman dengan bintang malam, aku masih diam. Mengkhayalkan saat-saat indah bersama Cressens. Saat hadirnya masih menemaniku. Kini, bayangnya pun tak dapat kugapai.
Malam beranjak semakin naik. Menutup pepohonan yang tumbuh rindang di antara tubuhku dengan embunnya. Aku kembali melihat langit malam yang bertabur bintang. Berharap Cressens melihatku sambil tersenyum.
Argggghhhh!!!
Perlahan nafasku menderu. Aku merasakan sakit yang luar biasa mencengkram jantung. Kupegang dada ini kuat. Perih. Segera tubuhku mengguling hebat di rerumputan yang terasa kering. Dadaku memanas. Inikah saatnya? Saat aku bisa kembali bertemu dengan Cressens lagi. Menemaninya, hingga ia tak lagi merasa sunyi seperti sekarang. Satu persatu nafasku mulai menghilang. Pandanganku pun mengabur bersama lemasnya tubuh ini. Yah, tubuh berbalut bulu-bulu srigala yang diwariskan kepadaku setiap kali bulan purnama menampakkan wujudnya. Pelan tubuhku menggontai. Hingga akhirnya pandanganku mengabur dan hilang.
Jogja, 13/08/07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar