berteman asap CO2, jariku mulai memencet tuts keyboard untuk mengenali siapa kamu dan seribu bayangan yang menghiasi dinding-dinding peraduan.kembali namamu merajuk dalam satu memoar yang indah namun begitu semu untuk kuraih.entahlah... ada sejuta rindu memuncak ketika aku menatap goresan tanganmu yang kesekian kalinya.
masihkah ada sengatan bayang-bayangku yang kau simpan sejak pertemuan yang kesekian?
abu-abu kutatap parasmu dalam bayang pekat yang kupoles sejak dini malam itu. mungkin aku, ataukah kau yang sudah lelah berpelangi dengan cinta kita, sayang... hanya desiran angin semalam yang membelai rambutku untuk kembali kutiupkan pada jendela kamarmu sepanjang hujan sore ini. dan kutahu, takkan pernah kau membuka jendela itu.
jeritkanlah, aku yang merapuh tanpa lukisan jejakmu.
biarkan titik-titik buih menghapus rasa yang tak bermuara ini.biarkan hanyut tertelan ombak pesakitan dan lenyap.
(untuk seseorang, yang mungkin sudah terlambat untuk kukatakan bahwa aku mencintainya kini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar